Ulang Tahun BJ Habibie dan Kiprahnya yang Dikenang

Jakarta, TechOPet —

Ulang tahun Bacharudin Jusuf (BJ) Habibie jatuh tepat hari ini.Meski pria yang akrab dipanggil Eyang ini telah tiada, tetapi jasa-jasanya terus dikenang.

BJ Habibie tutup usia pada 11 September 2019. Ia berpulang pada usia 83 tahun, setelah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Pria kelahiran Parepare, 25 Juni 1936 ini dimakamkan persis di samping pusara sang istri, Ainun di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.



Semasa hidupnya, Habibie tidak hanya dikenal sebagai tokoh politik, tetapi juga sosok yang memberi sumbangan pemikiran jenius. Terutama di bidang penerbangan.

Berikut sejumlah pesawat terbang yang hadir berkat tangan dingin Presiden ketiga Indonesia itu.

Pesawat R80

Pesawat R80 dirancang untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah. Pesawat R80 mampu mengangkut 80-90 penumpang dengan dimensi panjang 32,3 meter dengan lebar sayap 3,05 meter dan tinggi 8,5 meter.

Pesawat ini juga dapat melesat dengan kecepatan maksimal 330 knots atau sekitar 611 kilometer per jam. Pesawat ini dijadwalkan mengudara pada 2022 usai melalui serangkaian sertifikasi. Untuk produksi massal akan dilakukan pada 2025.

Pesawat N-250

Pada 1995 prototipe pesawat N-250 PA-1 versi Gatotkaca yang sanggup mengangkut 50 penumpang melakukan terbang perdana disaksikan Presiden Soeharto.

N-250 awalnya merupakan pesawat untuk penerbangan sipil yang dibangun oleh Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), sekarang bernama PT Dirgantara Indonesia. Namun proyek ini sempat dihentikan oleh Soeharto pada 1998 atas rekomendasi International Monetary Fund (IMF).

Pesawat Lockheed Martin C-130 Hercules

Model ini merupakan pesawat bermesin empat turboprop sayap tinggi yang punya fungsi membantu tugas militer. Pesawat ini sanggup mengangkut berbagai macam kargo dan mampu mendarat di landasan terbatas.

Karya Habibie lain adalah VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31, Hansa Jet 320, Airbus A-300 yang mampu menampung 300 penumpang, CN-235, Helikopter BO-105, Multi Role Combat Aircraft (MRCA).

Perumus Teori ‘Crack’

ini tidak hanya menghasilkan karya dalam bentuk fisik tetapi juga berupa teori yakni progression crack theory atau teori keretakan. untuk mengurangi tingkat kecelakaan pada pesawat dengan memperkuat struktur badan pesawat.

Caranya dengan mengkalkulasikan keretakan pesawat karena proses terbang landas dan mampu merancang bangun desain pesawat modern yang kerap tidak terdeteksi. Keretakan terjadi akibat fatigue atau kelelahan pada struktur pesawat yang tak terlihat.

Teori ini dipublikasikan saat ia mengemban studi di Institut Teknologi Rhine-Westphalia Utara di Aachen, Jerman.

(eks)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar