Pakar ITS Minta Warga Waspada Potensi Gempa-Tsunami Jatim

Jakarta, TechOPet —

Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Amien Widodo, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, menyusul diumumkannya potensi gempa dan tsunami di Jawa Timur.

Potensi itu, diungkap oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui hasil pemodelan matematis tentang prediksi gempa dan tsunami terkuat dan terbesar yang mungkin menerpa Jatim.

Dalam pemodelan itu, gempa yang berpotensi mengguncang Jatim diprediksi bakal sekuat magnitudo 8,7 dan sangat mungkin disertai tsunami setinggi 29 meter.



“Pemodelan yang dilakukan BMKG merupakan langkah awal yang tepat. Mengingat daerah Jawa Timur terbentuk karena adanya tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia,” kata Amien, Kamis (3/6).

Meneliti bab kegempaan di Jatim, kata dia, adalah sebuah keharusan, Menurutnya bukan tanpa alasan, BMKG menyebutkan skenario terburuk yang mungkin menimpa, sebab frekuensi kegempaan di Jatim juga meningkat lima bulan terakhir.

“Pemodelan ini menunjukkan worst scenario kemudian diumumkan, karena dalam lima bulan terakhir diketahui frekuensi gempa yang terjadi di Jatim sangat tinggi,” ucapnya.

Dosen Departemen Teknik Geofisika itu mengatakan, tingginya intensitas terjadinya gempa ini patut dicurigai. Ia menyebut hal itu belajar dari gempa besar yang terjadi Yogyakarta, pada 27 Mei 2005.

Salah satu yang menjadi pertanda sebelum gempa Yogyakarta terjadi, adalah aktivitas kegempaan terekam semakin sering. Ketika itu, frekuensi gempa mengalami kenaikan, tetapi tidak lebih dari 50 gempa setiap bulannya.

“Sementara itu, di lima bulan terakhir ini gempa yang terekam [di Jatim] selalu lebih dari 500 kejadian per bulan. Sangat jauh perbedaan frekuensi tahun 2005 lalu dengan tahun sekarang ini. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita jauh lebih waspada,” tambahnya.

Terlebih lagi, tambah Amien, tumbukan lempeng yang menyusun Jatim ini memiliki panjang sekitar 250 sampai 300 kilometer. Hal itu menunjukkan gempa sangat mungkin terjadi di berbagai titik, di wilayah yang ada di sekitar zona subduksi.

Pengamatan aktivitas gempa juga dilandaskan pada data seismik yang terukur, selain mengacu pada sejarah kegempaan. Meski menurut penelitian aktivitas seismik yang terekam selama ini tidak merata, tetapi menurut Amien, justru hal itu yang perlu dijadikan perhatian.

“Jika sewajarnya intensitas gempa di setiap titik zona subduksi adalah sama, tetapi ditemukan zona dengan gap seismic, artinya ada kemungkinan lempengan terkunci dan akan lepas sewaktu-waktu,” paparnya

Di Indonesia, zona dengan gap seismic ditandai di sembilan wilayah. Salah satunya ada di Jatim, dan berdekatan dengan pulau Bali.

Jika daerah yang diperkirakan sedang mengalami kuncian antar lempengnya pada akhirnya lepas, dan menyebabkan gempa yang besar, maka air akan mencapai daratan pada 20 sampai 25 menit.

“Belum lagi, jika gempa yang terjadi berkekuatan M 8,7, akan mendorong sesar-sesar di Jatim sehingga tereaktivasi,” imbuhnya.


Sesar Penyebab Gempa

BACA HALAMAN BERIKUTNYA


Bagikan

Tinggalkan komentar