LIPI Rilis Situs Papua, Ulas HAM Hingga Kegagalan Pembangunan

Jakarta, TechOPet —

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tri Laksana Handoko meresmikan situs pusat informasi Papua yang dibuat oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dia berharap situs itu bisa memberi informasi terkait Papua ke depan.

Handoko mengaku menyambut baik peluncuran pusat informasi Papua dalam bentuk digital. Situs www.papua.lipi.go.id itu mendokumentaiskan hasil-hasil kegiatan penelitian satuan-satuan kerja di LIPI dan tulisan para peneliti LIPI terkait dengan Papua.

“Ini diharapkan juga menjadi basis data untuk berbagai proses pengambilan kebijakan yang lebih baik di masa depan untuk Papua,” ujarnya secara virtual, Senin (3/5).



Website tersebut juga diklaim berfungsi sebagai pangkalan data yang bersifat publik sehingga masyarakat luas dapat mengakses hasil-hasil penelitian tentang Papua yang dilakukan oleh para peneliti LIPI.

Dalam situs itu dipaparkan bawah satuan-satuan kerja di Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) – LIPI telah melakukan berbagai kajian dan riset mengenai persoalan sosial di Papua sejak tahun 1970-an.

Kajian yang dilakukan beragam, mulai dari persoalan politik dan konflik separatisme sampai ke persoalan kebudayaan. Kebanyakan kajian dan riset di LIPI juga disebut lebih banyak mengambil topik marjinalisasi dan diskriminasi.

Di antaranya adalah penelitian adat sebagai fondasi pengelolaan pesisir (PMB-LIPI), perubahan sosial demografi di Papua Barat dan marjinalisasi (P2K-LIPI, 2019), pengelolaan sumber daya hutan Papua (PMB-LIPI, 2019), dan bahasa-bahasa yang hampir punah (PMB-LIPI, 2017-2019).

“Penelitian mengenai Muslim Papua juga dilakukan (P2P-LIPI) yang merekomendasikan agar Tanah Papua menjadi daerah yang inklusif dan lebih toleran terhadap komunitas Muslim dan pendatang,” ujar LIPI.

“Mereka berkontribusi besar dalam mendorong pembangunan ekonomi maupun integrasi politik nasional. Riset ini berbeda dengan riset yang lain karena memfokuskan pada pendatang Muslim,” tambahnya.

Topik lainnya yang paling banyak dikaji adalah kegagalan pembangunan di Papua. Misalnya, kajian pembangunan infrastruktur (P2P, 2018-2019), persoalan pendidikan dan kesehatan dasar (P2K-LIPI, 2019), pembangunan pulau-pulau terluar (P2P, P2K, 2019), dan Otonomi Khusus P2P-LIPI). Topik lainnya adalah jejak nasionalisme Indonesia di Boven Digul (PMB-LIPI, 2013). Sedangkan topik kekerasan negara dan pelanggaran HAM hanya dilakukan oleh Tim Papua Road Map (2009).

“Belum termasuk proyek data-sharing yang dilakukan oleh LIPI sebelum tahun 1998 yang terkait dengan pembangunan dan kebudayaan di Kabupaten Jayawijaya dan Biak,” kata LIPI.

LIPI menyampaikan pendokumentasian hasil-hasil penelitian mengenai masyarakat, kebudayaan, dan biodiversitas di Papua sebanrnya sudah dilakukan oleh sejumlah lembaga.

Situs papuaweb.org yang berbasis di Australia National University (ANU) Canberra misalnya, merupakan website paling komprehensif yang menyajikan laporan penelitian tesis dan disertasi tentang Papua.

“Sayangnya website tersebut tidak diupdate dalam sepuluh tahun terakhir,” kata LIPI.

Websitenya lainnya adalah www.papuaerfgoed.nl yang berbasis di Belanda. Seperti halnya www.papuaweb.org, website itu khusus mendokumentasikan hasil-hasil penelitian para sarjana dan misionaris Belanda dan negara lainnya di Eropa terkait Papua sejak masa kolonial.

“Sayangnya banyak sekali hasil penelitian dituliskan dalam Bahasa Belanda dan sulit bagi para pembaca yang tidak menguasai kemampuan berbahasa tersebut,” kata LIPI.

(jps/DAL)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar