LIPI Jelaskan Alasan Hewan Beku 24 Ribu Tahun Hidup Kembali

Jakarta, TechOPet —

Peneliti mikrobiologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Diah Radini Noerdjito menyatakan proses ‘penghidupan kembali’ hewan atau organisme lain yang membeku dilakukan dengan menggunakan telur dorman (resting egg) atau kista (cyst).

Hal itu diungkap Diah menanggapi studi peneliti Rusia yang telah menghidupkan kembali hewan mikroskopis Rotifera Bdelloid setelah membeku di permafrost Arktik yang berusia 24.000 tahun.

“Jadi hewan yang membeku dan mati dalam waktu lama tidak dapat dihidupkan lagi,” ujar Diah kepada TechOPet.com, Rabu (9/6).



Dia mengatakan telur dorman ataupun kista berbagai organisme banyak yang bisa bertahan dalam waktu yang lama dan baru menetas setelah kondisi lingkungan sesuai dengan kebutuhannya.

Menurutnya, mekanisme telur dorman ataupun kista hanya terdapat pada hewan dan tumbuhan tingkat rendah, serta beberapa kelompok mikroorganisme.

Lebih lanjut, Diah menjelaskan rotifer adalah salah satu jenis zooplankton yang mempunyai kemampuan berkembang biak secara partenogenesis, artinya dapat berkembang biak secara seksual (kawin) dan aseksual.

Pada kondisi lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya, rotifer betina dapat menghasilkan telur-telur homozygot yang dapat menetas menjadi individu-individu rotifer baru tanpa butuh pembuahan dari sperma rotifer jantan.

“Biasanya individu rotifer yang dihasilkan dari proses ini adalah rotifer betina,” ujarnya.

Pada saat kondisi lingkungan kurang sesuai seperti perubahan suhu atau kekeringan, rotifer beralih ke sistem reproduksi seksual, yang mana sperma rotifer jantan akan membuahi sel telur, menghasilkan telur heterozygot yang tahan terhadap berbagai tekanan kondisi lingkungan.

Diah menyebut telur yang dihasilkan secara seksual dapat bersifat dorman selama waktu tertentu. Setelah kondisi lingkungan menjadi lebih baik dan sesuai untuk kebutuhan rotifer, misalnya suhu yang sesuai, telur dorman akan menetas dan menghasilkan individu-individu rotifer baru.

“Untuk rotifera bdelloid sendiri, mereka mempunyai kemampuan cryptobiosis, yaitu kemampuan untuk bertahan dalam kondisi kering. Rotifer bdelloid sendiri tidak bisa dibilang mati. Jadi prosesnya semacam reaktivasi,” ujar Diah.

Di sisi lain, Diah menyampaikan teknik atau metodologi khusus diperlukan untuk menghasilkan atau merekayasa kondisi lingkungan agar sesuai dengan kebutuhan rotifer. Pada saat kondisi lingkungan sesuai, telur dorman akan menetas.

Diah menambahkan riset tersebut memberikan implikasi bahwa kemungkinan ada berbagai jenis organisme yang dapat aktif kembali atau ‘hidup’ apabila lapisan permafrost mencair. Salah satu penyebab pencairan permafrost antara lain global warming.

Menurut Diah, studi itu penting untuk mempelajari bagaimana mekanisme sel dapat beradaptasi pada kondisi beku dan mengatur metabolismenya seminimal mungkin. Dalam jangka panjang mungkin dapat diaplikasikan, misalnya untuk sistem penyimpanan atau preservasi dalam kultur koleksi.

“Organisme yang ‘terkubur’ lama dapat dibandingkan dengan organisme sejenis di masa sekarang, sehingga dapat diketahui perubahan yang terjadi seiring waktu,” ujarnya.

(jps/eks)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar