Jasad Wabah Black Death 5.000 Tahun Kuak Kisah Kelam di Eropa

Jakarta, TechOPet —

Wabah black death atau wabah maut hitam yang sempat ditakuti di Eropa pada 1300 tahun sedikit demi sedikit terkuak.

Ahli menemukan awal mula wabah pada jasad yang meninggal lebih dari 5.000 tahun lalu di Latvia yang diakui terinfeksi penyakit tersebut. Jasad itu kemudian disebut sebagai pasien nol atau pasien pertama.

Dikisahkan, 5.000 tahun lalu seekor hewan pengerat menggigit seorang pemburu. Hewan itu dilaporkan membawa strain bakteri yang disebut Yersinia pestis, yakni patogen yang menyebabkan black death, atau wabah pes.



Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Selasa (30/6), ini adalah jenis wabah tertua yang tercatat sains.

Genom strain itu dilaporkan sangat mirip dengan versi wabah yang menghancurkan Eropa abad pertengahan. Lebih dari 4.000 tahun kemudian wabah itu membunuh hingga setengah populasi di Eropa.

Ben Krause-Kyora, seorang profesor analisis DNA kuno di Universitas Kiel di Jerman mengatakan wabah itu tidak seperti keturunan mikrobanya. Wabah yang membuat pemburu purba itu sakit adalah penyakit yang bergerak lambat dan tidak terlalu menular.

“Tidak memiliki gen yang memungkinkan penularan oleh kutu,” ujar Krause-Kyora.

Selama wabah black death, gigitan kutu diduga menjadi sumber utama infeksi. Bakteri kemudian bermutasi sedemikian rupa sehingga memberi kemampuan untuk melompat antar spesies, dari hewan ke manusia.

Asal mula penemuan

Jasad pria itu dimakamkan bersama 3 jasad lain di situs pemakaman Neolitik di tepi Sungai Salac, Lativa, yang mengalir ke Laut Baltik. Di dekat tulangnya, para antropolog juga menggali sisa-sisa jasad lain.

Peneliti kemudian mencari tahu apakah keempat orang yang terkubur itu masih ada kaitanya dengan wabah tersebut.

Sebelum menyelesaikan analisis genetik, tim menyaring DNA purba yang diekstraksi dari tulang dan gigi untuk mencari jejak patogen.

Para peneliti kemudian membandingkan genom bakteri dengan strain wabah purba lainnya. Sebuah studi sebelumnya menggambarkan strain lain yang berusia sekitar 5.000 tahun, tetapi peneliti mengatakan temuan ini berusia ratusan tahun lebih tua.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa temuan itu adalah versi paling awal dari bakteri Yersinia pestis, yang merupakan penyebab wabah mematikan di Eropa.

Hasil analisis DNA juga menunjukkan bahwa manusia purba itu memiliki sejumlah besar bakteri di tubuhnya, yang menunjukkan bahwa ia mati karena bakteri.

Menurut penelitian menunjukkan bahwa manusia lain dari kelompoknya dengan hati-hati mengubur jasad-jasad yang tertular bakteri.

Menurut ahli, wabah sebagian besar bersifat zoonosis, artinya ia melompat dari inang hewan ke manusia.

Krause-Kyora mengatakan bahwa temuan itu dapat menunjukkan bagaimana patogen zoonosis seperti Ebola, flu babi, dan kemungkinan virus corona baru dapat berubah seiring waktu.

“Kami benar-benar harus memikirkan bagaimana evolusi peristiwa zoonosis bisa memakan waktu ribuan tahun,” kata Kyora dikutip Business Insider.

Peneliti lain menyambut baik temuan ini, namun ahli menyebut tidak menutup kemungkinan wabah itu telah menyebar luas di Eropa saat ini. Masyarakat pun tidak perlu khawatir karena penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik dilansir sciencealert.

(can/mik)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar