IDI Tegaskan Tak Ada ADE pada Vaksin Covid-19

Jakarta, TechOPet —

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menegaskan tidak ditemukan fenomena Antibody Dependent Enhancement (ADE) pada semua jenis vaksin Covid-19 yang didistribusikan secara global, termasuk vaksin virus Corona yang beredar di Indonesia.

Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 Pengurus Besar (PB) IDI, Iris Rengganis, menegaskan bahwa fenomena ADE hanya ditemukan pada vaksin dengue atau demam berdarah.

“Pada vaksin Covid-19 tidak ditemukan ADE, yang ada pada vaksin dengue atau demam berdarah. Untuk yang beredar saat ini mulai dari Sinovac, Sinopharm, Cansino, yang akan masuk, Sputnik AstraZeneca, Moderna, Pfizer dan lainnya yang ada di dunia semua tidak ada ADE-nya,” katanya saat dihubungi oleh TechOPet.com pada Minggu (27/6).



Melansir The Scientist, ADE merupakan fenomena di mana antibodi yang dibuat selama infeksi pertama kali, dalam keadaan yang sangat spesifik, akhirnya dapat meningkatkan penyakit daripada melindungi terhadap infeksi berikutnya. Para peneliti menyebut ini peningkatan yang bergantung pada antibodi atau ADE.

ADE adalah salah satu bentuk peningkatan kekebalan, sekelompok fenomena yang kurang dipahami terjadi ketika komponen sistem kekebalan manusia yang biasanya melindungi terhadap infeksi virus entah bagaimana akhirnya menjadi bumerang.

Iris menjelaskan, ADE merupakan salah satu komponen yang diperhatikan dalam uji klinis semua jenis vaksin Covid-19 yang beredar di dunia. Oleh sebab itu, sebelum vaksin Covid-19 beredar di kalangan umum, para ahli memastikan tidak ditemukan ADE dalam vaksin tersebut.

Fenomena ADE untuk vaksin Covid-19 sudah diselidiki sejak percobaan praklinis dan dinyatakan aman. Baik pada percobaan pada tikus maupun monyet menunjukkan tidak ada patologi pada darah maupun paru-paru hewan model.

“Masuk dalam salah satu yang diperiksa, dilihat, diperhatikan ada tidaknya ADE. Sejauh ini semua yang berada di Covid-19 tidak ada,” ujarnya.

Karenanya, ia meminta masyarakat tidak khawatir untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19.

“Itu harus dijelaskan, harus jelas benar ini mengenai ADE karena orang tidak mau divaksin karena khawatir ADE,” pungkasnya.

Sebelumnya, hal serupa diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad yang juga Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad Kusnandi Rusmil. Ia membantah bahwa terjadi fenomena pada SARS-CoV-2.

Kusnandi menyatakan bahwa fenomena ADE sejauh ini baru terlihat pada dengue. Keberadaan fenomena ADE pada kasus MERS, SARS, Ebola, dan HIV hanya ditemukan in silico (simulasi komputer) dan in vitro (percobaan di cawan petri laboratorium).

“Tidak menggambarkan fenomena di manusia,” katanya dalam keterangan resmi.

Dia menambahkan, tidak ditemukan efek samping yang serius yang disebabkan oleh vaksin Covid-19 dalam uji klinis dilakukan oleh Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad.

“Hingga saat ini belum ada bukti terjadinya ADE (pada kandidat vaksin Covid-19). Kewaspadaan dan monitoring terhadap keamanan vaksin tetap harus dilakukan,” ujarnya.

(ulf/ard)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar