Hari Bumi 2021, Menebak Umur Planet Ini

Jakarta, TechOPet —

Perayaan Hari Bumi Sedunia atau Earth Day kembali digelar oleh sejumlah pihak pada Kamis (22/4). Hari Bumi Sedunia merupakan salah satu cara para pemerhati lingkungan menyuarakan tentang kondisi lingkungan yang kian memburuk akibat polusi dan sebagainya.

Namun, sebagain pihak masih belum mengetahui berapa usai Bumi saat ini. Bumi yang menjadi tempat manusia hidup ternyata telah berusia sangat tua.

Masalahnya, peneliti mengetahui bahwa batuan terus menerus didaur ulang dari mantel Bumi ke permukaan Bumi. Karena arena adanya siklus batuan, sehingga mereka terus mencari data di tempat lain.



Para ilmuwan menganalisis batuan bulan yang dikumpulkan selama pendaratan di bulan dan meteorit yang mendarat di Bumi karena diperkirakan benda-benda di tata surya mungkin terbentuk pada waktu yang sama, seperti dilaporkan National Geographic

Dengan menghitung umur batuan di permukaan Bumi yang terus berubah, batuan di benda angkasa tetangga seperti Bulan dan meterorit, para ahli memperhitungkan umur Bumi mencapai 4,54 miliar tahun. Namun, dari angka ini pun masih ada rentang kesalahan penghitungan hingga 50 juta tahun.

Mencari di Bumi

Para ilmuwan telah melakukan beberapa upaya untuk menentukan usia planet ini selama 400 tahun terakhir. Mereka telah mencoba untuk memprediksi usia Bumi berdasarkan perubahan permukaan laut, waktu yang dibutuhkan Bumi atau matahari untuk mendingin untuk menyajikan suhu, dan salinitas laut.

Seiring kemajuan teknologi penanggalan, metode itu ternyata tidak dapat diandalkan. Pasalnya, naik turunnya lautan terbukti sebagai proses yang selalu berubah, bukannya menurun secara bertahap.

Dalam upaya lain untuk menghitung usia planet, para ilmuwan beralih ke bebatuan yang menutupi permukaannya. Namun, karena lempeng tektonik terus-menerus mengubah kerak bumi, batuan pertama telah lama didaur ulang, dilebur, dan dibentuk kembali menjadi singkapan baru.

Ilmuwan juga harus melawan masalah yang disebut Great Unconformity, di mana lapisan batuan sedimen tampaknya hilang (di Grand Canyon, misalnya, ada batuan 1,2 miliar tahun yang tidak dapat ditemukan).

Melansir Space, ada beberapa penjelasan untuk ketidaksesuaian ini; pada awal 2019, sebuah penelitian menunjukkan bahwa zaman es global menyebabkan gletser menggiling batu, menyebabkannya hancur. Lempeng tektonik kemudian melemparkan batu yang hancur kembali ke bagian dalam bumi, menghilangkan bukti lama dan mengubahnya menjadi batuan baru. 

Pada awal abad ke-20, para ilmuwan pun menyempurnakan proses penanggalan radiometrik. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa isotop dari beberapa elemen radioaktif meluruh menjadi elemen lain dengan kecepatan yang dapat diprediksi.

Dengan memeriksa unsur-unsur yang ada, para ilmuwan akhirnya dapat menghitung jumlah awal unsur radioaktif, dan berapa lama unsur-unsur tersebut membusuk, sehingga memungkinkan mereka untuk menentukan usia batuan.

Batuan tertua di Bumi yang ditemukan hingga saat ini adalah Acasta Gneiss di barat laut Kanada dekat Great Slave Lake, yang berusia 4,03 miliar tahun. Tetapi bebatuan yang berusia lebih dari 3,5 miliar tahun dapat ditemukan di semua benua.

Misalnya di Greenland memiliki batuan supracrustal Isua yang berusia 3,7 hingga 3,8 miliar tahun. Sedangkan batuan di Swaziland berusia 3,4 hingga 3,5 miliar tahun. Sampel di Australia Barat berumur 3,4 miliar hingga 3,6 miliar tahun.

Pencarian di luar angkasa

Di sisi lain, peneliti juga memeriksa berbagai meteorit yang ditemukan di Bumi. Beberapa sampel diperkirakan berusia 4,5 miliar tahun dan mendukung kalkulasi lain tentang tanggal awal pembentukan Bumi.

Lebih dari 70 meteorit yang jatuh ke Bumi juga telah dihitung usianya dengan penanggalan radiometrik. Yang tertua berusia antara 4,4 miliar dan 4,5 miliar tahun.

Pada tahun 1953, Clair Cameron Patterson, ahli geokimia Institut Teknologi California, mengukur rasio isotop timbal dalam sampel meteorit. Sampel meteorit menunjukkan penyebaran dari 4,53 miliar hingga 4,58 miliar tahun. Para ilmuwan menafsirkan kisaran ini sebagai waktu yang dibutuhkan tata surya untuk berkembang, peristiwa bertahap yang berlangsung selama kurang lebih 50 juta tahun.

Pada akhirnya, dengan mengandalkan hasil penellitian bebatuan di Bumi dan juga informasi yang dikumpulkan dari sistem yang mengelilinginya, para ilmuwan telah dapat memperkirakan usia Bumi sekitar 4,54 miliar tahun.

Sebagai perbandingan, galaksi Bima Sakti yang memuat tata surya berusia kira-kira 13,2 miliar tahun, sedangkan alam semesta sendiri berumur 13,8 miliar tahun.

(jps/eks)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar