Hari Asteroid 30 Juni dan Ledakan Dahsyat di Siberia 1908

Jakarta, TechOPet —

Hari Asteroid sedunia kini diperingati setiap 30 Juni setelah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2017 lalu melalui Resolusi no. 492 Sidang Umum ke-71 yang disahkan pada 6 Desember 2016.

Mengutip Times on News, yang mendasari PBB memilih tanggal tersebut karena pada 30 Juni 1908, ada peristiwa Tunguska atau hantaman asteroid yang terjadi di dekat Sungai Tunguska, Yeniseysk, Rusia pada pagi hari pukul 7 waktu setempat.

Hari Asteroid Internasional yang kini diperingati setiap 30 Juni bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang asteroid, ancaman yang ditimbulkan, dan apa yang dapat dilakukan untuk melindungi planet dan generasi mendatang dari peristiwa bencana asteroid.



Peringatan hari asteroid diprakarsai pakar kosmologi Stephen Hawking, Presiden Yayasan B612, Danica Remy, astronot Apollo 9 Rusty Schweickart, dan Brian May, gitaris Queen yang juga ahli astrofisika.

Lebih dari 200 astronot, ilmuwan, pakar teknologi, dan seniman menandatangani deklarasi Hari Asteroid tersebut yang juga dikenal dengan ‘Deklarasi 100X’ untuk menyelamatkan Bumi dari asteroid.

Yayasan B612 sendiri mendedikasikan pekerjaannya untuk pertahanan planet terhadap asteroid dan dampak objek dekat Bumi (NEO) lainnya.

Peristiwa Tunguska

Ledakan 108 tahun lalu itu menghancurkan 80 juta pohon di hutan seluas 2.150 km persegi atau tiga kali luas Jakarta. Ledakan itu dikaitkan dengan semburan udara meteoroid berbatu atau asteroid berukuran sekitar 100 meter. 

Mengutip The Hindustan Times, beruntungnya tempat tersebut hanyalah sebuah hutan sehingga tidak ada manusia yang menjadi korban jiwa. Ilmuwan mengatakan objek tersebut hancur pada ketinggian 5 hingga 10 km sebelum mendarat di permukaan Bumi.

Saksi mata yang berlokasi dengan jarak 80 km dari pusat ledakan merasakan embusan angin panas dan terlempar dari kursinya. Sedangkan saksi lainnya, menyatakan orang-orang ketakutan berkumpul di jalanan karena tidak mengerti apa yang terjadi.

Suara ledakan tersebut diklaim terdengar dari jarak 800 kilometer. Asteroid yang jatuh itu diketahui berukuran 100 meter setelah menembus lapisan ozon, berbobot sekitar 1 juta ton, dan memiliki kecepatan hingga 108.000 km per jam. Gelombang kejut yang dihasilkan mencapai ketinggian hingga 10 km.

Dalam area tersebut terdapat 200 kilometer persegi hutan yang mengalami kebakaran spontan. Di saat yang sama, sensor-sensor seismometer di sekujur daratan Eropa hingga sejauh Jerman mencatat usikan seismik aneh.

Setelah bola api lenyap, meteorit itu membuat ledakan keras dan menggetarkan Bumi. Sensor magnetometer di Irkutsk juga mencatat anomali, bahkan untuk beberapa lama, magnetometer ini menganggap Bumi sempat memiliki dua kutub utara magnetik dengan satu di antaranya berkedudukan di Tunguska.

Sensor-sensor barometer di segenap penjuru Bumi merekam gelombang tekanan udara, salah satunya diklaim terdeteksi di Jakarta yang kala itu masih Batavia.

Tunguska sendiri adalah kawasan rimba raya taiga yang tumbuh di sekitar alur sungai Podkamennaya Tunguska, Siberia Tengah. Di tahun 1908, kawasan ini menjadi bagian dari propinsi Yeniseyk dalam kekaisaran Russia (kini propinsi Krasnoyark Krai, Russia).

NASA, membuat Near Earth Object Program dan masih melacak lebih dari 15 ribu asteroid yang terdekat dengan Bumi. Walau begitu, hingga kini belum ada asteroid yang pernah dekat dan menghantam bumi.

(dal/DAL)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar