Hacker Malaysia Diklaim Jebol 280 Ribu Data Siswa Israel

Jakarta, TechOPet —

Sekelompok hacker Malaysia pro-Palestina yang dikenal dengan nama “DragonForce” mengklaim meretas 280.000 data siswa Israel minggu lalu.

Sebanyak 280.000 data siswa di seluruh Israel bocor usai serangan siber yang ditargetkan kepada platform yang kerap digunakan siswa untuk mencari pekerjaan, AcadeME.

JARINGAN PEREKRUTAN SISWA DAN LULUSAN TERBESAR DAN TERLENGKAP DI ISRAEL Diretas Oleh DragonForce Malaysia,” ujar DragonForce lewat pesan Telegram (20/6).

Dalam sebuah pesan yang diposting ke sebuah forum di situs gelap, kelompok tersebut meminta para peretas, organisasi hak asasi manusia, dan aktivis untuk berkampanye melawan Israel, dan berulang kali disebut sebagai ‘Israhell’.

Para peretas mengaitkan peretasan itu dengan 11 hari pertempuran Israel dengan kelompok teror di Jalur Gaza. Kelompok tersebut mengklaim bahwa mereka membocorkan email, kata sandi, nama depan dan belakang, alamat, bahkan nomor telepon siswa yang terdaftar di AcadeME.

AcadeMe bekerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi terkemuka termasuk Universitas Ben Gurion Negev, Universitas Tel Aviv, Universitas Terbuka, Universitas Bar-Ilan, Technion, dan Universitas Haifa serta banyak perguruan tinggi.

Pakar keamanan siber May Brooks-Kempler, yang mengelola grup Think Cyber Safe di Facebook, menyebut tengah menyelidiki dugaan peretasan, pada aplikasi yang telah digunakan sejak 2014 itu.

Situs AcadeME diketahui sempat berstatus offline dan terlihat “tidak tersedia” pada Senin pagi. Pemberitahuan yang muncul ketika membuka situs itu mengatakan bahwa situs tersebut ‘seharusnya segera kembali’.

Pada hari yang sama, kelompok tersebut mengklaim bahwa mereka membocorkan sejumlah besar paspor Israel. Kelompok yang sama juga meluncurkan serangan DDos terhadap bank-bank Israel pada hari Jumat, termasuk Bank of Israel, Bank Leumi dan Mizrahi Tefahot.

Awal tahun ini, kepala Direktorat Siber Nasional Israel (INCD) Yigal Unna memperingatkan bahwa serangan siber dapat melumpuhkan institusi akademik Israel, jika salam mengambil tindakan untuk merespons situasi tersebut.



Sekelompok tim gabungan yang terdiri dari peneliti INCD dan Divisi Teknologi, Inovasi & Digital Ben-Gurion dibentuk setelah ditemukan peretasan. Mereka yang bekerja untuk mencegah kebocoran informasi dan menahan insiden tersebut.

Meski begitu, hingga kini belum diketahui jelas siapa yang melakukan serangan itu.

Dikutip Jpost, sederet serangan siber telah menjangkiti bisnis dan institusi Israel pada tahun lalu, termasuk Israel Aerospace Industries, perusahaan asuransi Shirbit, dan perusahaan perangkat lunak Amital.

Direktorat Siber Nasional melaporkan bahwa mereka telah menangani lebih dari 11.000 kasus hotline pada tahun 2020. Hal itu 30 persen lebih banyak daripada yang ditangani pada tahun 2019.

Dikutip Times of Israel, pada Desember lalu sebuah kelompok peretas yang mengatasnamakan Black Shadow membobol perusahaan asuransi Shirbit, dan mencuri data klien. Mereka menuntut uang tebusan atau akan mempublikasikan data itu ke internet.

Perusahaan menolak untuk membayar dan peretas mengatakan bahwa mereka telah menjual data itu di web gelap.

(can/DAL)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar