Eijkman: Herd Immunity RI Bisa Molor Imbas Mutasi Covid-19

Jakarta, TechOPet —

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman menilai target herd immunity atau kekebalan kelompok terhadap virus corona (covid-19) hingga saat ini masih belum bisa diprediksi dengan akurat, lantaran masih perlu dipastikan dengan serangkaian zero surveillance test.

Namun demikian, Eijkman menilai target itu berpotensi molor dari rencana pemerintah soal capaian target Herd Immunity pada akhir Desember tahun ini atau pada kuartal pertama 2022. Hal itu seiring dengan perkembangan mutasi virus corona yang tengah merebak di berbagai negara dengan karakteristik masing-masing.

“Jadi herd immunity kan sangat tergantung kepada keberhasilan vaksinasi. Nah, memang dari mutasi-mutasi yang ada sejak tahun lalu itu dikhawatirkan bisa menyebar lebih cepat, juga bisa lolos dari vaksinasi,” kata Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio saat dihubungi TechOPet.com, Selasa (27/4).



Meski begitu, Amin memastikan hingga saat ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum memberikan pernyataan resmi terkait apakah mutasi corona yang saat ini terjadi mempengaruhi efektivitas vaksin.

Saat ini terdapat tiga varian virus SARS-CoV-2 yang mendapat perhatian khusus, yakni B.1.1.7 (Inggris), B.1.351 (Afrika Selatan), dan B.1.1.28/ P1 (Brasil). Ketiga varian itu dilaporkan juga memiliki mutasi pada lonjakan protein yang dinamakan E484K. Selain itu, saat ini global juga tengah mewaspadai varian B1617 asal India.

Sementara di Indonesia, sejauh ini terpantau baru ada lima varian corona yang berhasil teridentifikasi, yakni varian D614G, B117, N439K, E484K, dan B1525.

“Sampai saat ini WHO masih menganggap bahwa efikasi masih di atas 50 persen, walau ada penurunan tapi belum menyebabkan di bawah 50 persen, itu untuk sementara masih bisa dipakai ya. Belum ada arahan untuk mengubah atau menyesuaikan vaksinnya, tapi tentunya itu sangat tergantung adanya varian-varian tadi,” jelas Amin.

Dengan kondisi dan dugaan itu, Amin lantas mengimbau agar pemerintah mempercepat program vaksinasi nasional, sebelum kemungkinan terburuk mutasi ‘kebal’ vaksin Covid-19 terjadi di Indonesia.

Ia juga meminta agar warga yang menjadi sasaran vaksinasi pemerintah tidak lagi menolak untuk segera mendapatkan suntikan dua dosis vaksin covid-19. Dalam hal ini, pemerintah menargetkan vaksinasi Covid-19 dilakukan terhadap 181,5 juta orang untuk mencapai target herd immunity.

Belum lagi, kata Amin, sampai saat ini belum ada produsen vaksin covid-19 yang secara terang-terangan mengetahui soal berapa lama daya antibodi vaksin buatannya dapat bertahan di tubuh manusia. Terakhir, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sempat menyebutkan bahwa daya antibodi vaksin Sinovac kurang lebih setahun.

“Kalau vaksinasi semakin cepat diselesaikan, dan herd immunity 70 persen penduduk segera dicapai. Maka diharapkan saat itu belum terjadi dominasi populasi varian virus yang beredar. Oleh sebab itu, kita tengah berlomba,” pungkasnya.

Perihal target herd immunity, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan sebagian herd immunity ditargetkan terbentuk pada Desember 2021. Menurutnya, herd immunity bisa terbentuk jika dua per tiga dari jumlah total penduduk sudah disuntik vaksin.

Sementara Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa memproyeksi Indonesia bisa mencapai herd immunity alias sebesar 70 persen pada Maret 2022. Hitungan ini muncul karena Indonesia sudah menggelar vaksinasi virus corona sejak Januari 2021.

(khr/DAL)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar