Batu Pemujaan Berusia 7.000 Tahun Ditemukan di Arab

Jakarta, TechOPet —

Sebuah struktur batu persegi panjang yang diperkirakan berusia lebih dari 7.000 tahun ditemukan tersebar di barat laut Arab Saudi.

Berdasarkan sebuah penelitian di jurnal Antiquity, bangunan batu itu merupakan bagian dari tempat untuk pemujaan ternak di zaman prasejarah. Usia struktur bangunan itu disebut 2.000 tahun lebih tua dari Stonehenge atau piramida mesir tertua.

Lebih dari 1.000 bangunan misterius yang disebut mustalist atau persegi panjang, telah ditemukan di Arab Saudi. Meski, bentuknya bervariasi, namun kebanyakan berbentuk persegi panjang, yang terdiri dari dua tempat dan dihubungkan oleh dua dinding.



Karya arkeologi menunjukkan beberapa mustatil memiliki ruang di tengah yang terbuat dari dinding batu dan mengelilingi area terbuka dengan batu berdiri di tengahnya.

Penelitian baru memperkuat teori yang diajukan oleh peneliti lain bahwa mustatil memiliki tujuan ritualistik dan sebagai tambahan, memberikan bukti bahwa mereka adalah bagian dari pemujaan ternak.

“Mustatil di barat laut Arab mewakili lanskap ritual monumental berskala besar pertama di dunia mana pun. Mendahului Stonehenge yang selama lebih dari 2.500 tahun,” kata asisten direktur proyek Arkeologi Udara di Kerajaan Arab Saudi (AAKSA), Melissa Kennedy, dalam sebuah pernyataan.

Dalam laporan jurnal Antiquity itu menunjukkan bahwa struktur tersebut kini dapat ditafsirkan sebagai instalasi ritual yang berasal dari akhir milenium keenam sebelum masehi.

“Dengan penggalian baru-baru ini mengungkapkan bukti paling awal untuk [sebuah] kultus ternak di Jazirah Arab,” tulis makalah itu.

Penelitian itu mengungkapkan bahwa monumen-monumen itu secara arsitektural lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya, menampilkan kamar, pintu masuk dan orthostat.

Penggalian Mustatil

Beberapa mustatil telah dijarah atau dirusak. Beruntungnya, pada tahun 2019 tim berhasil menggali mustatil yang masih utuh. Mereka menemukan sejumlah tulang besar, tanduk sapi, serta sisa-sisa dari domba, kambing dan kijang.

Seperti dilansir NBC News, penelitian itu didanai oleh Royal Commission for AlUla, yang dibentuk oleh pemerintah Arab Saudi untuk melestarikan warisan wilayah AlUla di barat laut Saudi, tempat ditemukan banyak mustatil.

Para peneliti menemukan sisa-sisa itu di sebuah ruangan, di sebelah batu tegak besar. Sehingga mereka percaya bahwa temuannya adalah dari orang-orang yang berpartisipasi dalam kegiatan ritual yang berkaitan dengan pemujaan terhadap ternak.

Persembahan itu mungkin diberikan untuk dewa atau kekuatan supranatural yang berkaitan dengan hewan ternak. Mengingat tulisan belum ditemukan pada saat itu, peneliti tidak yakin dengan kepercayaan dari pengikut sekte ternak tersebut.

“Arsitektur mustatil ini menunjukkan bahwa penggunaannya melibatkan elemen prosesi. Pintu masuk yang sempit menunjukkan bahwa struktur diakses dalam satu file,” tulis tim dalam artikel Antiquity.

Para arkeolog juga menemukan seni cadas di daerah tersebut, dan dari periode waktu yang sama mendukung gagasan bahwa mustatil digunakan sebagai bagian dari pemujaan ternak.

Menurut penjelasan tim arkeolog tersebut, seni cadas menunjukkan pemandangan menggembala ternak dan berburu.

Strukturnya begitu besar dan menonjol di lanskap sehingga fungsi ritual tampak mungkin terjadi. Selain itu, panjang dinding tidak lebih dari 0,5 meter. Artinya, struktur itu tak berfungsi sebagai kandang hewan, kata peneliti itu.

Penemuan tulang dan tanduk sapi di dalam mustatil menambah bukti bahwa sekitar, 7.000 tahun lalu, lingkungan di wilayah itu lebih lembab daripada saat ini.

“Lingkungan pasti jauh lebih lembab selama periode ini, kami tahu ini dari data paleoklimatologi yang dikumpulkan dari seluruh Semenanjung Arab,” kata Kennedy kepada Live Science.

Ternak membutuhkan banyak air untuk bertahan hidup, lanjut Keneddy, jadi dengan menemukan tanduk sapi yang terawat baik dan luar biasa ini di dalam mustatil, memberi pemahaman yang lebih baik mengenai gambaran Neolitik Akhir di bagian Jazirah Arab.

Meski begitu, mustatil tetap meninggalkan misteri. Semisal lokasi bangunan yang ada di lereng gunung berapi.

“Kami tidak begitu yakin mengapa mereka dibangun di atas gunung berapi,” kata direktur proyek, Hugh Thomas.

Mungkin, kata Thomas, dengan menempatkan beberapa struktur pada fitur lanskap yang menonjol seperti gunung berapi dijadikan sebagai penanda teritorial yang menunjukkan area penggembalaan pastoral bagi kelompok tertentu.

“Yang sangat menarik adalah beberapa mustatil sangat kelihatan, sementara yang lain hampir tersembunyi. Tampaknya hampir tidak ada konsistensi dalam penempatannya, yang sangat tidak biasa,” kata Thomas.

Menurut Thomas, setelah ini tim berencana untuk melakukan lebih banyak penggalian di masa depan dan mempelajari struktur menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS).

(isa/agn)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar