Badan Antariksa Eropa Rekrut Astronaut Difabel

Jakarta, TechOPet —

Badan Antariksa Eropa (ESA) melakukan terobosan dengan memulai program perekrutan astronaut difabel. Itu adalah upaya merekrut penyandang disabilitas untuk menjadi astronaut yang pertama di dunia.

Kepala ESA Josef Aschbacher mengatakan pihaknya saat ini sedang mencari 22 orang calon astronaut, dan sejauh ini telah menerima sekitar 22.000 pelamar untuk program luar angkasa tersebut.

“Kami ingin meluncurkan [program] astronaut penyandang disabilitas, yang mana ini akan menjadi yang pertama kalinya [di dunia],” ujar pria asal Austria itu, Jumat (25/6) seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (26/6).



“Saya juga senang untuk ESA atas ini karena ini menunjukkan bahwa luar angkasa adalah untuk semua orang,” imbuhnya.

Ia mengatakan bahwa ESA berjanji pula akan mengembangkan teknologi yang memastikan para penyandang disabilitas memainkan peran penuh dalam program angkasa. Salah satunya, kata dia, akan turut menjadi bagian dari misi di Stasiun Luar Angkasa InternasionL (ISS), dan lainnya.

Dan para astronot itu akan melampaui Stasiun Luar Angkasa Internasional: beberapa akan dikerahkan ke stasiun Gateway yang direncanakan Amerika Serikat di bulan, sementara negara-negara anggota ESA sedang mempertimbangkan undangan dari badan antariksa China dan Rusia untuk berpartisipasi dalam proyek pangkalan bulan serupa mereka.

“Undangan [untuk program luar angkasa] sudah ada di atas meja, dan itu ide yang sangat bagus,” katanya.

Aschbacher, yang tumbuh dewasa dengan melihat bintang-bintang di pertanian orang tuanya di sebuah pegunungan Austria, mengaku dirinya pernah sekali melamar menjadi astronaut ESA saat masih seorang pelajar.

Ia mengatakan untuk melamar menjadi astronaut yang dulu terkesan eksklusif, bahkan ‘culun’, kini telah menjadi sebuah hal yang lumrah karena ramainya pelamar.

Aschbacher mengungkapkan untuk pelamar program angkasa di ESA tahun ini saja sudah hampir tiga kali lipat dari jumlah satu dekade lalu, dan seperempat di antara mereka saat ini adalah perempuan. Jumlah perempuan itu, kata dia, sudah naik setidaknya hingga 15 persen.

(Reuters/kid)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar