AIPI Ungkap Sebab Perkembangan Riset Indonesia Masih Lambat

Jakarta, TechOPet —

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Satryo Soemantri Brodjonegoro menilai riset terus berjalan dan berkembang di Indonesia. Dia mengatakan banyak temuan dan inovasi lahir dari hasil riset di Indonesia.

“Saya melihat riset kita jalan dan berkembang terus. Riset kita juga banyak yang menghasilkan temuan dan inovasi,” ujar Satryo kepada TechOPet.com, pekan lalu.

Meski demikian, Satryo menuturkan riset yang ada di Indonesia belum ideal. Dia melihat kecepatan dan perkembangan riset di Indonesia tidak secepat di negara lain yang lebih maju.



Lambatnya perkembangan riset di Indonesia, kata dia juga membuat segelintir peneliti yang menonjol. Padahal, dia menyebut banyak peneliti asal Indonesia yang dihormati di dunia internasional.

“Di negara lain, yang maju risetnya, memang populasi periset yang unggulan itu cukup banyak. Dan lembaga-lembaganya pun berkembang cukup pesat karena banyak peneliti yang mempunyai kemampuan yang cukup tinggi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Satryo menyebut ekosistem riset di Indonesia belum mendukung. Misalnya, dia melihat dana riset yang ada tidak didukung dengan sistem keuangan yang memadai. Dia menyebut dana riset juga perlu ditambah secara signifikan seperti negara lain yang maju secara riset, yakni minimal 2-3 persen dari GDP.

“Kita kan masih jauh di bawah. Kita masih 0,08 persen GDP,” ujar Satryo.

Terkait dengan pendanaan, Satryo juga menyebut sifatnya untuk pengadaan. Sehingga tidak bisa dikerjakan secara multiyears atau pola hibah. Sistem itu membatasi riset untuk bisa berjalan dengan baik.

Di berbagai negara, Satryo menyampaikan riset didanai dana hibah kepada peneliti. Dengan cara itu, peneliti memiliki keleluasaan dalam meneliti

“Kalau kita tidak ada pola seperti itu. Dipatok dengan proses pengadaan di mana waktunya sudah tertentu. Kemudian hasilnya juga harus dicapai dalam waktu tertentu dan rincian dana riset harus diuraikan,” ujarnya.

Di sisi lain, Satriyo mengungkapkan banyak peneliti dalam negeri melakukan riset karena tuntutan semata untuk mendapat tunjangan dan sebagainya. Hanya sedikit peneliti yang melakukan riset untuk mencari solusi atau temuan baru.

Adapun diaspora yang bergelut di dunia penelitian, Satryo berkata terbilang banyak. Dia juga menyampaikan mereka siap jika diminta mengabdi di Indonesia.

“Hanya saja saya tanya keluhan mereka kenapa tidak mau ke sini (Indonesia), keluhannya adalah ekosistemnya. Kebebasan yang mereka inginkan dalam riset dan bidang yang ditekuni,” ujar Satryo.

Sementara itu, Satriyo sendiri enggan berkomentar banyak perihal Kemenristek yang bergabung dengan Kemendikbud. Dia hanya menyampaikan kebijakan itu cukup berat untuk dijalankan.

Di satu sisi nasib Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang direncanakan akan mengkoordinasi pelaksanaan riset di Indonesia di bawah Kemeristek  ke depan menurutnya bisa berdiri sendiri.

Ia berharap posisi BRIN yang menjadi lembaga independen bisa mengatasi berbagai hambatan dalam dunia penelitian, terutama bisa menciptakan ekosistem dan menghilangkan regulasi yang menghambat.

(jps/DAL)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar