Ahli RI Bicara Dugaan Mutasi Covid-19 Tak Terdeteksi Tes PCR

Jakarta, TechOPet —

Gelombang penyebaran virus SARS-CoV-2 di India semakin meningkat. Strain Covid-19 yang bermutasi di India tersebut diduga tidak dapat terdeteksi Polymerase Chain Reaction (PCR) yang menjadi alat telusur standar untuk deteksi infeksi.

Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo menjelaskan dugaan tidak terdeteksinya mutasi virus B1617 oleh alat tes PCR.

Ia mengatakan biasanya tes PCR menargetkan virus di dua titik yang berbeda yakni rongga hidung dan mulut, dan seharusnya PCR masih bisa mengenali varian mutasi virus yang pertama ditemukan di India itu.



“Saya masih menunggu laporan di jurnal ilmiah tentang detil sekuen yang mutasi ada di posisi berapa sehingga tidak terdeteksi,” ujar Ahmad kepada TechOPet.com, Senin (26/4).

Meski begitu, kata Ahmad apabila ada lab yang menargetkan gen S dari virus memang bisa saja tidak terdeteksi. Tetapi lab PCR di Indonesia biasanya tidak mendeteksi gen S saja, melainkan gen RdRP, gen N dan gen ORF1.

Meski demikian, menurut Ahmad tetap ada kemungkinan varian virus B1617 yang pertama kali ditemukan di India, tidak dapat dikenali oleh PCR sehingga lolos masuk ke Indonesia.

“Iya, tergantung gen apa yang digunakan di laboratorium,” ujarnya.

Ia mengatakan perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang tujuannya mengetahui di mana titik tidak terdeteksinya mutasi virus tersebut oleh PCR test.

Ahmad menilai titik mutasi menjadi penting untuk diketahui, karena mutasi itu terjadi di gen S yang bisa mempengaruhi vaksin. Sedangkan gen S jarang ditargetkan untuk tes diagnostik.

Hingga kini Ahmad mengaku belum melihat laporan jurnal ilmiah yang menyatakan bahwa varian yang ada mengalami mutasi menjadi ketiga gen, yakni gen RdRP, gen N dan gen ORF, sehingga masih bisa menangkap varian tersebut namun tidak bisa menamainya varian apa.

“Perlu Next Generation Sequencing (NGS) untuk menamainya,” pungkasnya.

Sebelumnya, otoritas kesehatan Prancis mengumumkan bahwa varian virus corona baru terdeteksi di sebuah rumah sakit di komune Lannion di Côtes d’Armor. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa tes PCR gagal mendeteksi virus yang bermutasi.

Mengutip The Brussels Times, ahli virologi Belgia Steven Van Gucht mengungkapkan 8 hingga 10 kasus menunjukkan mereka yang bergejala Covid-19 tetapi hasil tes PCR tetap negatif.

Van Gucht mengaku banyak tes yang digunakan oleh laboratorium yang berbeda. Ada kemungkinan bahwa satu pengujian tertentu bermasalah dengan satu varian Covid-19 tertentu yang sudah bermutasi.

Hal senada juga disampaikan Souradipta Chandra, Dokter Konsultan di Helvetia Medical Center di Delhi yang mengatakan bahwa kemungkinan ada varian mutan ganda dan triple dari COVID-19 yang pertama kali terdeteksi di India tidak terdeteksi dari tes PCR.

“Mutasi baru tampaknya tidak terdeteksi oleh uji RT-PCR. Saya yakin ada varietas mutan ganda dan rangkap tiga (triple) dan karena perubahan struktur, tes RT-PCR tidak dapat mendeteksinya. Varietas baru sepertinya menimbulkan gejala baru, “kata Chandra mengutip Times Now News.

Adapun gejala baru yang mereka perhatikan pada pasien COVID-19 selama gelombang India kedua termasuk diare, sakit perut, ruam, konjungtivitis, keadaan kebingungan, dan kabut otak. Penyakitnya disertai gejala virus corona yang biasa.

(can/DAL)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar