Ahli Jelaskan Risiko Kematian dan Positif Covid Usai Vaksin

Jakarta, TechOPet —

Ahli biologi molekuler, Ahmad Rusdan Utomo menanggapi pernyataan eks Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari terkait jumlah kematian akibat virus corona di Indonesia terus meningkat, meskipun sudah program vaksinasi. Siti juga menyinggung orang risiko terpapar virus corona SARS-CoV-2 meski sudah divaksin.

Menurut Ahmad Rusdan, ada hal yang perlu diluruskan terkait informasi tersebut, yang seharusnya dalam paparan itu dapat membandingkan tingkat kematian atau kesakitan bagi yang sudah divaksin dan yang belum divaksin.

“Kalau kita hanya fokus pada satu sayap saja yaitu yang sudah divaksin bisa jadi memang ada yang sakit atau yang meninggal, tapi kalau kita mengatakan risikonya sama saja, harusnya yang disampaikan adalah bagaimana mereka yang tidak divaksin atau belum divaksin, berapa tingkat kematiannya,” ujar Ahmad lewat akun Youtube Pak Ahmad (25/6).



Ahmad Rusdan menyatakan tidak bisa menyamakan risiko masyarakat yang sudah divaksin atau belum divaksin, sebab dijelaskannya orang yang belum divaksin dan sudah divaksin memiliki risiko yang berbeda. Ia merujuk data dari beberapa negara yang menggunakan vaksin Sinovac, salah satunya Chile dan Brasil.

Berdasarkan data yang dihimpun terlihat jelas bahwa ada pengurangan risiko kesakitan dan kematian dari paparan virus corona, antara komunitas yang divaksin dan belum divaksin. Meski demikian ia tidak menampik bahwa tetap adanya penularan virus bagi orang yang sudah divaksin.

“Jumlah kematian atau kesakitan antara yang divaksin dan tidak itu jelas berbeda,” ujarnya.

Ahmad menambahkan vaksinasi sudah terbukti mampu mengurangi keparahan dan menurunkan risiko kematian saat terinfeksi. Dan bila ketika ada klaim bahwa divaksin dan tidak divaksin memiliki status yang sama saja, ada baiknya untuk melihat data di berbagai negara yang sudah menggelar vaksinasi massal.

Di samping itu ia menjelaskan bahwa di Indonesia tidak hanya menggunakan satu platform vaksin saja, salah satunya menggunakan AstraZaneca. Data dari beberapa negara juga mempublikasi hasil vaksinasi menggunakan platform tersebut, seperti di Inggris dan Amerika Serikat.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa vaksinasi dengan platform AstraZeneca diklaim bisa mengendalikan beberapa mutasi virus corona, salah satunya mutasi B.1.1.7 yang ditemukan pertama kali di Inggris.

(can/mik)

[Gambas:Video TechOPet]


Bagikan

Tinggalkan komentar