Ahli Buktikan Prediksi 40 Tahun Lalu: Supernova Jenis Baru

Jakarta, TechOPet —

Para astronom telah menemukan ledakan bintang atau supernova jenis baru yang dapat memberikan siklus kehidupan bintang. Penelitian yang berfokus pada supernova 2018zd itu, mengkonfirmasi prediksi yang dibuat oleh astronom Universitas Tokyo, Ken’ichi Nomoto lebih dari 40 tahun lalu.

Sebelumnya pada Maret 2018, Astronom Jepang, Koichi Itagaki mengamati supernova 2018zd. Ia kemudian meminta para astronom menggunakan teleskop untuk mempelajarinya sekitar tiga jam setelah ledakan terjadi. Ini kali pertama para astronom dapat melihat bintang sebelum dan sesudah supernova.

Ada dua jenis ledakan bintang yakni supernova neutron dan supernova termonuklir. Dengan adanya penemuan baru itu, jenis ketiga disebut sebagai supernova penangkap elektron. Jenis itu pertama kali dijelaskan oleh Nomoto pada 1980.



Saat inti bintang kehilangan bahan bakar, gaya gravitasi mendorong elektron inti dan menggabungkannya dengan inti atom.

Penurunan tekanan elektron yang tiba-tiba ini memicu keruntuhan dan bintang terbebani dengan beratnya sendiri. Kemudian yang tersisa adalah bintang neutron padat dengan massa sedikit lebih besar dari matahari.

Seorang mahasiswa pascasarjana di University of California, Daichi Hiramatsu memimpin tim untuk mengobservasi dan mengumpulkan data mengenai supernova 2018zd selama dua tahun usai pengamatan pertama.

Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin banyak peneliti menyadari bahwa hal itu mungkin merupakan contoh pertama dari supernova penangkap elektron.

Teori Nomoto mengenai supernova ini menunjukkan bahwa mereka membawa tanda kimia yang tak biasa setelah ledakan terjadi, yang kemudian diamati oleh para peneliti dalam data 2018zd. Data itu juga sesuai dengan lima kriteria lain dalam teori Nomoto untuk tipe supernova yang diajukan.

Tipe itu termasuk kehilangan massa yang kuat sebelum supernova, ledakan lemah, radioaktif kecil, inti yang kaya akan unsur-unsur seperti oksigen, neon dan magnesium, serta bintang tipe Cabang Raksasa Super-Asimtotik (SAGB). Bintang SAGB ini adalah bintang raksasa merah tua yang membesar.

“Kami mulai dengan bertanya ‘apa ini aneh?’ Kemudian kami memeriksa setiap aspek SN 2018zd dan menyadari bahwa semuanya dapat dijelaskan dalam skenario penangkapan elektron,” kata Hiramatsu mengutip TechOPet.

Karena bintang-bintang ini berada dalam rentang massa yang terbatas, mereka tidak cukup ringan untuk mencegah inti yang dimilikinya runtuh. Tetapi mereka juga tak cukup berat untuk menciptakan unsur-unsur yang lebih berat seperti besi.

“Ini adalah kasus paling terkenal untuk kategori supernova menarik yang berada di antara rentang massa kerdil putih yang meledak dan inti besi dari bintang masif yang runtuh dan kemudian memantul dan mengarah ke ledakan, yang disebut inti- supernova runtuh,” ujar profesor astronomi di University of California, Alex Filippenko.

“Studi ini secara signifikan meningkatkan pemahaman kita tentang tahap akhir evolusi bintang,” tambahnya.


Menciptakan Nebula Kepiting

BACA HALAMAN BERIKUTNYA


Bagikan

Tinggalkan komentar